-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Pelestarian Ekosistem Batang Toru Didukung Lewat Konsultasi Publik Koridor Satwa

Selasa | 9/09/2025 07:22:00 PM WIB | 0 Views Last Updated 2025-09-10T02:22:26Z

Tapanuli Selatan – Upaya pelestarian ekosistem Batang Toru, habitat asli Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) yang merupakan spesies kera besar paling langka di dunia, kembali mendapat dukungan melalui acara konsultasi publik hasil studi kelayakan pembangunan koridor satwa, Selasa (9/9/2025), di Aula Kantor Bappeda Tapanuli Selatan.


Acara dibuka oleh Wakil Bupati Tapanuli Selatan, H. Jafar Syahbuddin Ritonga, mewakili Bupati. Pertemuan tersebut membahas hasil studi kelayakan pembangunan empat koridor satwa di kawasan Batang Toru.


Koridor tersebut dirancang untuk menghubungkan blok-blok hutan yang terpisah, sehingga memungkinkan satwa kunci seperti Orangutan Tapanuli, Harimau Sumatera, Beruang Madu, dan Rangkong tetap dapat bergerak bebas, mempertahankan keragaman genetik, serta mengurangi risiko kepunahan.


“Ekosistem Batang Toru adalah hutan tropis yang sangat vital, tidak hanya bagi satwa langka, tetapi juga sebagai sumber air bersih yang menopang kehidupan masyarakat dari hulu hingga hilir,” ujar Jafar.


Empat koridor satwa


Mengacu pada Dokumen Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Indonesia (IBSAP) 2025–2045, pembangunan koridor ekosistem menjadi salah satu strategi utama dalam menjaga keanekaragaman hayati nasional.


Berdasarkan kajian, telah direncanakan empat koridor yakni Koridor Hutaimbaru, Bulu Mario, Silima-lima, dan Aek Malakkut. Koridor ini diharapkan mampu menghubungkan blok-blok habitat yang terpisah, sekaligus memastikan pergerakan Orangutan Tapanuli dan satwa lain berlangsung aman serta mendukung pertukaran genetik.


Selain itu, pembangunan koridor juga dinilai dapat menekan potensi konflik antara manusia dan satwa liar, sekaligus melibatkan masyarakat dalam upaya pelestarian.


“Melalui pertemuan ini kami berharap program ini sejalan dengan misi pembangunan daerah, yakni mewujudkan masyarakat Tapanuli Selatan yang maju, berkarakter unggul, sehat, cerdas, dan sejahtera untuk menyongsong Indonesia Emas 2045,” kata Jafar.


Kolaborasi multipihak


Sundaland Program Director, Jeri Imansyah, menyampaikan program koridor Batang Toru mendapat dukungan dari Konservasi Indonesia, Pemerintah Provinsi Sumut, dan Pemkab Tapanuli Selatan sejak 2022. Kajian teknis juga dilakukan bersama tim ahli Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumut, Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), serta Sumatera Rainforest Institute (SRI).


“Melalui kolaborasi para pihak, dampak positif yang dirasakan masyarakat maupun ekosistem akan semakin luas. Inilah bentuk nyata ekonomi hijau yang selaras dengan pembangunan berkelanjutan,” ujar Jeri.


Ekosistem Batang Toru sendiri terbagi dalam tiga blok—Timur, Barat, dan Sibual-buali—yang kerap disebut “jantung hijau” Sumatera Utara. Kawasan ini menjadi habitat Orangutan Tapanuli, spesies yang baru diidentifikasi pada 2017 dengan populasi kurang dari 800 individu.


Pelestarian habitat ini dinilai sangat krusial, tidak hanya bagi keberlangsungan spesies, tetapi juga bagi reputasi Indonesia dalam upaya konservasi satwa langka di tingkat global.


Hasil rekomendasi dari studi kelayakan diharapkan memperkuat komitmen Indonesia menjaga ekosistem unik Batang Toru sekaligus mendukung pencapaian target pembangunan berkelanjutan nasional.


Acara konsultasi publik ini turut menghadirkan akademisi dan pakar konservasi, serta dihadiri oleh Sekda Tapanuli Selatan Sofyan Adil, Kepala Bappeda, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, camat, kepala desa, lembaga swadaya masyarakat, hingga komunitas lokal.


Reporter. Gusti


×
Berita Terbaru Update