Oleh: Harry Ara Hutabarat
Ketua Gerakan Indonesia Emas (Chairman of the Golden Indonesia Movement)
JAKARTA, Setiap tanggal 24 Oktober, dunia memperingati Hari Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Day), sebuah momentum untuk mengenang lahirnya lembaga internasional yang menjadi simbol kerja sama global dan perdamaian dunia. Namun di tengah arus globalisasi, disrupsi teknologi, dan ketegangan geopolitik, pertanyaan pun muncul: masih relevankah makna peringatan ini di era modern, khususnya bagi Indonesia?
Sejarah Singkat dan Tujuan Pendirian PBB
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) resmi berdiri pada 24 Oktober 1945, tidak lama setelah berakhirnya Perang Dunia II. Lembaga ini lahir dari tekad negara-negara di dunia untuk mencegah tragedi perang serupa terulang kembali.
Dengan Piagam PBB (United Nations Charter) sebagai landasan hukumnya, organisasi ini diawali oleh 51 negara pendiri dan kini telah berkembang menjadi 193 negara anggota. Tujuan utamanya adalah menjaga perdamaian dan keamanan internasional, memajukan hak asasi manusia, serta mendorong kerja sama di bidang ekonomi, sosial, dan budaya.
Tanggal 24 Oktober diperingati setiap tahun sebagai hari ketika Piagam PBB mulai berlaku setelah diratifikasi oleh sebagian besar negara anggota. Momen ini menjadi pengingat akan komitmen dunia terhadap perdamaian dan solidaritas internasional.
Peran PBB di Dunia Modern dan Indonesia
Meski kerap menuai kritik karena dianggap lamban merespons berbagai isu global, PBB tetap memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas dunia. Melalui lembaga-lembaga seperti UNICEF, WHO, UNESCO, dan UNHCR, PBB aktif di berbagai bidang kemanusiaan, kesehatan, pendidikan, dan lingkungan.
Di Indonesia, kontribusi nyata PBB terlihat dalam berbagai program kolaboratif dengan pemerintah, mulai dari penanganan pandemi, pendidikan anak-anak, hingga upaya mitigasi perubahan iklim. Keberadaan lembaga ini menunjukkan bahwa diplomasi dan kerja sama multilateral masih menjadi pilar penting dalam membangun dunia yang lebih adil dan damai.
Tema Global yang Selalu Diperbarui
Setiap tahun, Hari PBB diwarnai dengan tema global yang relevan dengan tantangan masa kini—mulai dari isu ketimpangan ekonomi, perubahan iklim, hingga perdamaian lintas batas. Tema-tema tersebut menjadi ajakan bagi masyarakat dunia untuk tidak hanya mengenang sejarah, tetapi juga terlibat aktif dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sosial.
Di era digital dan globalisasi saat ini, pesan utama PBB tetap sama: setiap individu memiliki peran penting dalam menjaga harmoni global, baik melalui tindakan sederhana seperti menjaga lingkungan, menolak ujaran kebencian, maupun mendukung kesetaraan gender.
Relevansi bagi Indonesia di Tengah Krisis Global
Bagi Indonesia, makna Hari Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak hanya bersifat simbolis. Dampak dari kerja lembaga internasional ini dapat dirasakan secara nyata dalam kehidupan masyarakat, seperti akses vaksin global, bantuan kemanusiaan, hingga peningkatan kualitas pendidikan.
Momentum ini juga menjadi refleksi bagi bangsa Indonesia untuk terus memperkuat peran diplomasi dan solidaritas global, terutama di tengah krisis multidimensi yang melanda dunia saat ini.
“Hari PBB bukan hanya peringatan sejarah, melainkan pengingat bahwa dunia yang damai hanya dapat terwujud melalui kerja sama, empati, dan tanggung jawab bersama,” ujar Harry Ara Hutabarat, Ketua Gerakan Indonesia Emas.
Harry menilai, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia telah menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga perdamaian dan menjadi bagian dari solusi global. “Kita masih kokoh berdiri di bawah bendera Merah Putih, membawa semangat damai bagi bangsa-bangsa,” ujarnya.
Sumber: Artikel opini Harry Ara Hutabarat, Ketua Gerakan Indonesia Emas
Red.
